Menelusuri Gaya Arsitektur Bangunan Bersejarah di Herat, Afghanistan Barat



Sekilas, gaya arsitektur bangunan bersejarah di Herat, Afghanistan Barat, tampak sangat mirip dengan yang ada di Uzbekistan, terutama di kota Samarkand. Padahal, Herat berjarak lebih dari 1.000 kilometer jauhnya dari Samarkand. Ini sebenarnya tidak mengherankan. Gaya arsitektur ini disebut “Timurid”, dengan ciri khas ukuran bangunan yang sangat raksasa, banyak menara, cekungan iwan ala Persia, penggunaan ubin keramik warna-warni berkilauan, dan kubah2 bulat menggelembung.

 

Gaya Timurid berhubungan dengan Dinasti Timurid, yang didirikan oleh raja Amir Timur (dikenal juga sebagai Timurleng atau Tamerlane) pada abad ke-14. Dia adalah seorang raja penakluk dari Asia Tengah, dengan wilayah kekuasaan membentang hingga ke Turki. Timur bukan hanya penakluk, tapi juga pembangun. Dia membangun Samarkand menjadi pusat seni, ilmu pengetahuan, dan peradaban. Anak Timur, Shah Rukh turut membangun kembali Masjid Agung di Herat. Cucu buyut Timur, Sultan Husayn Bayqara, menjadi penguasa Herat, yang membawa Herat mencapai puncak kejayaan sebagai pusat kebudayaan dan keagamaan.

 

Ini menunjukkan bahwa sejarah di masa lalu sering kali melampaui garis batas negara-negara modern. Ketika kita bicara masa lalu, sangat absurd apabila kita menyematkan identitas negara modern ketika pada tokoh-tokoh dan fragmen sejarah itu. Misalnya, kita tidak bisa begitu saja menyebut Timur sebagai “orang Uzbekistan” atau Bayqara sebagai “orang Afghanistan”.

 

Kaum nasionalis di negara-negara bertetangga sering bercekcok tentang kepemilikan atas pahlawan, budaya, atau kebanggaan sejarah. Bukan hanya di Asia Tengah, di Indonesia pun kita sering mendengar tudingan bahwa negara tetangga “mencuri budaya kita”. Ada baiknya kita selalu ingat, dalam aliran panjang sungai sejarah, garis batas negeri tidak abadi, tidak pernah abadi, dan tidak akan abadi.

 



Oleh: Agustinus Wibowo

Herat, Afghanistan, 2009

Posting Komentar

0 Komentar