Jalan-Jalan Sehat di Den Haag dan Leiden


Pagi ini menjalani rutinitas pagi: jalan-jalan sehat, di sekitar Masjid al-Hikmah Den Haag, Belanda. Kami JJS di Taman Zuiderpark. Udara pagi cukup dingin, sekitar 11 derajat C. Untuk ukuran warga Bekasi seperti kami, udara segitu sudah dingin, tetapi juga asyik. Kami jalan hampir 6 km. Dalam perjalanan pulang, kami lihat toko pastry Turki. Yang jaga di sana orang Kurdi. Dia ndak bisa bahasa Inggris, saya ndak bisa Belanda. Akhirnya kami komunikasi via hati dan jari. Alhamdulillah kok ya lancar.


Pagi selanjutnya, kami JJS di LeidenKami menyusuri taman yang begitu sepi di dekat tempat penginapan kami. Setiap ke kota-kota Belanda, selalu ada hal yang mengganggu pikiran saya: kok mereka bisa membangun tata kota dan perkampungan yang tertib dan bersih begini ya. Kanal ada di mana-mana dan bisa dilewati perahu kecil sebagai alat transportasi. Di mana-mana orang nyepeda onthel (persis pemandangan waktu saya kecil dulu di kampung saat semua orang naik sepeda dan ndak takut “keringatan”). Kesan saya: orang Belanda cenderung lebih langsing ketimbang orang Amerika. Mungkin karena tradisi “ngonthel” ini. 



Salah satu hal yang saya suka saat berada di kota-kota Eropa atau Amerika adalah kita dipaksa jalan kaki ke manapun. Lebih sehat secara fisik. Bagi saya yang pernah tumbuh di desa di akhir tahun 70an dan awal 80-an, ini bukan hal yang mengagetkan. Zaman saya kecil dulu, kebiasaan sehari-hari penduduk kampung adalah persis seperti di Leiden ini: orang-orang naik sepeda atau jalan kaki ke manapun. 


Daaaan hal yang selalu “mengganggu” pikiran saya adalah ini: kok bisa air kran diminum langsung tanpa harus dimasak. Di kota-kota Eropa (juga di Amerika dan Australia), air kran memang bisa diminum langsung. Ini saya alami juga waktu di Roma dan Milan kemaren. Pasti bukan perkara mudah membuat air yang begitu bersih sehingga bisa diminum langsung dari kran. Butuh teknologi dan manajemen yang tentu rumit dan kompleks. Saya bersyukur bisa terus jalan pagi bersama Mbak Admin, sambil menikmati bumi Allah yang berwarna-wani ini. Alhamdulillah ‘ala kulli ni’mah.

 

 

 

 

 

Penulis: Ulil Abshar Abdalla

Posting Komentar

0 Komentar