Derana

 


 Arkan meninggalkan pabrik penyulingan, di kantong celananya ada uang hasil penjualan minyak nilam. Istrinya pasti sudah menunggu uang tersebut. Namun Arkan belum bisa pulang, karena akan bekerja membetulkan atap rumah yang geser dan bocor. Arkan bekerja selama dua hari karena diminta juga untuk membersihkan halaman depan belakang dan seisi rumah. Selama dua hari itu, Arkan tinggal di rumah majikan yang memiliki kamar kosong di belakang.

Pekerjaan pun selesai, Arkan menerima haknya, lalu pamit pulang. Ingatannya kembali kepada uang yang masih dibawanya. Saatnya ia bertemu istrinya dan memberikan uang itu. Setiba di rumah, istrinya masih bermain dengan Ifa, anak mereka. Kedatangan Arkan disambut dengan bahagia. Bapak bercengkrama dan bersantai dengan anak istrinya hingga sore hari. Malam begitu sunyi, jiwa-jiwa yang tinggal di lokasi transmigran, sudah di rumahnya masing-masing. Arkan dan istrinya duduk berdua di depan rumah mereka. Mereka menikmati langit malam yang bertaburan bintang. Belum ada penerangan di lokasi transmigran yang mereka tinggali. Hanya ditemani lampu badai, mereka menghabiskan malam setiap harinya.

Udara malam yang tenang semakin menghanyutkan suasana dalam kedamaian. Arkan mulai membuka pembicaraan dengan istrinya. “Bu, kemarin bapak ke pabrik penyulingan, bapak mendapatkan dua juta dari hasil penjualan nilam.” Lantas bapak menyerahkan uang itu ke ibu. Ibu pun menerima uang itu dan menghitung setiap lembarnya. Jumlah uangnya sesuai, lalu ibu memasukkan uang itu ke saku dasternya. Ibu menarik napas pelan dan menanggapi uang yang diberi oleh suaminya. “Maaf pak, bukan ibu tidak bersyukur atau tidak menghargai pemberian bapak. Kalau Ibu boleh tahu kenapa hasil penjualan nilamnya sedikit ya pak?” tanya Ibu.

Bapak menduga pertanyaan itu yang akan terlontar dari istrinya. Dua hari itu pula, dia mempersiapkan diri untuk pembicaraan malam ini. “Iya bu, belum seperti yang ibu dan bapak bayangkan dan rencanakan di awal.” kata bapak dengan tenang. “Terus pak?”. “Perencanaan manusia masih belum apa-apa dengan perencanaan Allah. Kita bisa luput memperhatikan dan menganalisis setiap pertimbangan dalam melangkah. Termasuk saat kita memulai menanam nilam, kita hanya memikirkan hasilnya saja, lupa dengan faktor lainnya.” Bapak mencoba memberi penguatan kepada istrinya.

“Lalu apa pak kesimpulannya?”. “Pohon nilam ukurannya pendek dan kecil kurang cocok dengan tipologi lahan di sini yang masih memerlukan banyak sentuhan, serangan baik dari hewan yang datang menginjak-injak maupun adanya semak belukar itu sendiri menganggu pertumbuhan nilam itu sendiri. Ibu tahu sendiri bagaimana kita menjaga nilam dari awal menanam hingga memanen”. “Maksud bapak, hasil penjualan nilam kita sedikit karena lahan yang kita gunakan untuk menanam pohon nilam memang belum sesuai untuk tumbuh kembang nilam.” “Seperti itu, Bu. Karena kurang sesuai itu, hasil nilam kita hanya sedikit.”

Terbayang dalam pikiran ibu, bagaimana ia dan suaminya bergantian merawat nilam itu setiap harinya. Jerih payah sudah mereka tukarkan untuk mendapat hasil terbaik. Namun kenyataannya, penghasilan nilam yang mereka peroleh, belum bisa menutup apa yang sudah mereka keluarkan selama ini. “Dengan hasil seperti ini, Bapak akan melanjutkan menanam pohon nilam atau tidak?” tanya Ibu. “Tidak bu. Bapak akan ganti ke yang lain. Nilam cukup sampai di sini saja.”

Ibu mengangguk mendengar ketegasan suaminya. Sejenak Ibu terdiam. Mendengar jawaban bapak, ibu tahu bahwa suaminya menahan perasaan yang sama seperti dirinya. Mereka berdua perlu waktu sebentar untuk menenangkan perasaan masing-masing. Kondisi keuangan mereka masih pas-pasan. Wajar jika mereka mengharap usaha mereka menghasilkan, namun begitulah hasil, Allah yang menentukan. Cukup lama mereka terdiam. Hingga Ibu sudah merasa lebih baik, Ibu pun membuka percakapan lagi.

“Walaupun sedikit, kita harus bersyukur. Alhamdulillah, masih ada pemasukan untuk keuangan keluarga kita. Ibu tidak marah. Kecewa pun sebentar. Sering kita mendengar bahwa tidak ada kesuksesan yang dicapai tanpa merasakan perihnya kegagalan. Kita bangun dan mulai lagi usaha yang baru.” Ibu menyemangati dirinya dan suaminya.

Bapak memeluk dan mencium pipi istrinya atas kesabaran dan pengertian istrinya. Bapak berjanji dalam hatinya akan selalu membahagiakan istrinya. “Bapak bisa gunakan uang hasil penjualan nilam untuk memulai usaha baru,”ucap Ibu. “Buat ibu saja. Kalau pun bapak perlu uang, bapak akan bekerja lagi,” tolak bapak. “Jika bapak mau pakai uang itu, pakai saja asal itu untuk keperluan keluarga,” bujuk Ibu. “Kalau keperluan keluarga yang lebih paham ibu.” “Keperluan keluarga kan tidak harus yang bersifat belanja pak. Yang bersifat investasi juga bisa pak.”

Bapak mengakui kecerdasan istrinya. Dalam kondisi keuangan keluarga yang mepet, istrinya masih mau mengikhlaskan uang itu untuk berinvestasi. “Ketika kita masih di Jawa, jauh sebelum bertransmigrasi, bukannya bapak sudah lama ingin pelihara kambing untuk mewujudkan impian bapak menjadi peternak yang sukses.”

Mendengar istrinya menyebut ternak kambing, bapak sadar bahwa istrinya begitu memahami dan mendukung impiannya. “Tapi ibu dan Ifa juga membutuhkan uang itu.” “Pak, kita tidak pernah kekurangan makan. Walaupun hanya sama nasi dan kerupuk. Toh ada saja rezeki untuk makan setiap harinya. Ibu tidak mau uang itu habis hanya untuk makan keseharian kita. Lebih baik, ibu makan dengan lauk yang sangat sederhana asal bapak bisa melanjutkan impian bapak. Itu pilihan ibu buat bapak dan keluarga.”

Arkan sedang tidak bekerja. Kebetulan, belum ada orang yang akan menggunakan tenaganya. Arkan mengisi waktu kosongnya untuk memulai usaha barunya. Sejak subuh, Arkan sudah keluar rumah, mencari kayu tua di hutan dekat lokasi transmigran. Arkan membawa kayu-kayu itu sendiri. Arkan sudah memilih lokasi untuk kandang kambingnya. Tidak jauh dari rumah yang ditinggalinya sekarang. Berhari-hari dia habiskan waktunya untuk membuat kandang. Hingga akhirnya kandang yang dibuatnya pun berhasil berdiri dan layak dipakai.

Bersama istrinya, Arkan memulainya lagi dari awal. Uang tabungan mereka gunakan untuk membeli kambing jantan dan betina milik warga setempat. Lahan yang semua ditanami nilam, ini dibersihkan kembali, lalu ditanami jengkol. Sejak saat itu, Arkan bergantian sama istrinya memelihara kambing mereka dengan riang dan  telaten.  Bergantian pula mereka merawat lahan jengkol.

Satu tahun sudah Arkan memelihara kambing yang ia belinya. Kambing itu sudah bunting, tiga bulan lagi akan melahirkan. Arkan menunggu hari-hari kelahiran anak kambingnya. Hari itu pun tiba, kambing Arkan melahirkan dua ekor anak kambing. Kesibukan Arkan dan istrinya bertambah dengan kelahiran dua anak kambing.

Hari ke sepuluh, usia anak kambingnya. Betapa terkejutnya Arkan, anak kambingnya hilang satu ekor, tidak ada di dalam kambing. Tidak ada jejak yang tertinggal di sekitar kambing, bahkan kandang juga tidak mengalami kerusakan. Lantas Arkan memikirkan bagaimana kambingnya bisa hilang. Rasa sedih menyeruak, betapa tidak, anak kambing itu adalah aset hidupnya, itu yang ia miliki saat ini untuk membangun masa depan.

Setelah satu minggu berlalu, Arkan mulai melupakan rasa sedihnya atas kehilangan satu ekor anak kambing. Arkan bersemangat kembali merawat satu anak kambingnya beserta dengan induk dan pejatannya. Setiap hari ia bersihkan kandang kambingnya, agar kambingnya nyaman untuk beristirahat. Saat makan, dia lepas kambingnya ke alam untuk mencari rumput sendiri, sambil mencari kayu dan rumput.. Setelah dirasa cukup kenyang, Arkan akan membawa kembali kambingnya ke kandangnya. Setiba di kandang, stok rumput ia letakkan di kotak makanan di bagian depan, agar sewaktu kambingnya lapar stok makanannya sudah tersedia.

Semangatnya sudah pulih kembali tetapi ujian yang tidak disangka datang kembali. Anak kambingnya hilang satu lagi. Sesak di dadanya tidak bisa ia hindari. Sedih melanda perasaannya. Dilihatnya  ada tetesan darah di sekitar kandang tapi tidak ada bangkai kambing di sekitar kadang. Kandang juga terkunci, tidak rusak.

Arkan tidak mau tinggal diam, dia harus mencari tahu penyebabnya. Dia sudah kehilangan dua anak kambingnya, Arkan tidak mau kehilangan induk kambing yang terakhir kalinya. Arkan berjalan menuju rumah Rindang, sahabat transmigrannya. Beruntung sahabatnya itu ada di rumah dan tidak pergi kemana-mana. Arkan mengajak Rindang menuju kandang kambingnya.

Sambil berjalan ke kandang, Arkan menceritakan tentang anak kambingnya yang hilang. Arkan meminta Rindang mengamati seluruh kandangnya agar bisa mencari tanda dan petunjuk siapa yang sesungguhnya mengambil anak kambingnya. Setiba di kandang, Rindang mengamati bercak darah yang tertinggal serta situasi kandang. Sebentar ia terdiam dan berpikir, lalu Rindang memberi penjelasan kepada Arkan,”Anak kambingmu telah dimakan oleh ular hutan bukan dicuri oleh orang dan ular masuk melalui lubang yang ada di dinding kandang.”

Masuk akal juga penjelasan yang diberikan oleh Rindang. Lokasi kandangnya jauh dari perumahan penduduk, kalau yang mengambil orang memang kemungkinan itu kecil. Orang yang akan ke sini memerlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, kalau hanya mencuri anak kambing, tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang sudah mereka keluarkan. Kunci kandang juga tidak rusak.

Yah, ular. Sebuah penjelasan yang paling masuk akal. Lokasi transmigrannya dekat dengan hutan, bahkan sedikit orang yang masuk ke hutan itu. Sangat mungkin di dalam hutan itu ada ular dan sebagai hewan carnivora, ular bisa mengintai mangsa yang akan dimakannya.

Arkan menyesali dirinya tidak memikirkan ini diawal. Keyakinannya akan kelangsungan ternak kambingnya runtuh seketika. Mengetahui lingkungan di sekitar kandang kambingnya tidak aman. Kandang kambingnya dalam pengintaian ular hutan. Dia harus segera menyelamatkan induk kambingnya. Dia akan segera membicarakan itu dengan istrinya.

Seperti yang biasa mereka lakukan, mereka duduk dibawah cahaya bulan. Kursi panjang yang terbuat dari kayu, mereka pindahkan ke tengah halaman rumah mereka. “Bu, bapak akan menjual induk kambing.” Bapak menyampaikan perihal inti pembicaraan mereka tanpa basa basi. “Itu langkah penyelematan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Paling tidak modal yang kita keluarkan bisa kembali walapun belum mendapatkan keuntungan.” “Berarti ibu setuju kan?”tanya bapak. “Iya, pak.”

Dengan suara sedikit bergetar bapak berkata, “Kedua kalinya usaha kita gagal sebelum mencapai akhir, Bu. Bapak merasa sedih teramat sangat hingga menusuk hati. Apalagi jika mengingat bagaimana dulu bapak bolak balik dari hutan ke kandang membawa kayu.” “Walau bapak sedih, tapi bapak tidak boleh marah sama Allah. Bahwa kuasanya selalu membawa kebaikan untuk kita walaupun itu sebuah kesedihan. Allah sedang menguji keimanan dan kesabaran kita atas kebesarannya. Bapak harus ingat akan pengorbanan Nabi Ibrahim, pengorbanan kita belum seberapa untuk menunjukkan kekuatan keimanan kita. Pembayaran dari Allah atas kadar jerih payah bapak, akan bapak terima. Hanya menunggu perhitungan waktu Allah. Bukan waktu kita.”

Ibu memegang tangan suaminya dan menciumnya lalu berkata lagi,” Besok ibu antar bapak menjual kambing itu. Sekalian ke pasar untuk belanja kebutuhan rumah yang mulai menipis, kita bawa kambing kita juga. Mudah-mudahan besok kita bisa menemukan pembeli untuk kambing kita.”

Keduanya baru masuk rumah ketika sudah tengah malam. Ibu langsung tertidur, Arkan ke belakang dulu sebelum pergi tidur. Tak lama kemudian, Arkan mendengar suara berisik dari kandang kambingnya. Rasa kantuk yang mendera pun hilang. Dengan cepat Arkan bangun dari tidurnya, diambilnya senter untuk menerangi beserta parang untuk berjaga-jaga. Bergegas Arkan berjalan ke rumah Rindang. Tidak peduli walau sudah malam, diketuknya pintu rumah Rindang. Yang dicari keluar dan membukakan pintu, segera Arkan mengajak Rindang menemaninya ke kandang kambing. Setelah berpamitan dengan istrinya, Rindang bersama Arkan berjalan menembus gelap malam mendekati kandang kambing. Semakin dekat, suara berisik dari dalam kandang semakin jelas. Dengan sinar dari senter yang mereka bawa, tampak seekor ular besar berukuran sekitar tiga meter, sudah merambat menaiki kaki kandang.

Pantas, kambing itu berisik, mereka merasakan bahwa dirinya tidak aman. Arkan berdiri menyinari area kandang, dengan cekatan Rindang menebaskan parangnya ke arah kepala ular. Sungguh gerakan yang gesit dan sangat cepat, hanya dalam hitungan detik, ular itu sudah tidak bernyawa terkena tebasan parang Rindang.

Si pembunuh kambing-kambingnya terkapar di tanah. Ukuran tubuh ular itu memang dua kali lebih besar dari ukuran anak kambing milik Arkan, sehingga dalam satu terkaman saja anak kambing sudah mati dan masuk ke dalam perut si ular. Seketika itu pula, induk kambing menjadi tenang kembali. Arkan bersyukur, induk kambingnya selamat. “Kemana kita akan membuang bangkai ular ini?” tanya Arkan. “Kita gali tanah secukupnya, sampai semua tubuh ular masuk,” jawab Rindang. “Kenapa tidak kita lempar ke sungai besar dekat rumah, biar jadi santapan lezat ikan-ikan di sungai,” pinta Arkan. “Badan ular itu terlalu besar, sulit dimakan oleh ikan. Udah kamu tetap disini, kamu singkirkan itu ular menjauh dari kandang kambing. Aku kembali ke rumah sebentar, ambil cangkul,” perintah Rindang.

Di tengah malam yang sunyi, Arkan dan Rindang memberesi kegaduhan di kandang. Bangkai ular sudah mereka satukan dengan tanah. Arkan berterima kasih atas bantuan Rindang malam itu. Keduanya berjalan bersama-sama kembali ke rumah. Setiba di rumah, Arkan mendapati istri dan anaknya masih tertidur lelap.

Pagi menampakkan keceriaan, Arkan sarapan bersama istrinya. Anak mereka sudah makan terlebih dahulu, sekarang Ifa telah keluar bermain di sungai yang ada di dekat rumah. “Semalam bapak keluar karena ada suara berisik dari kandang, ada ular yang menghampiri kandang. Oleh Rindang, ular itu sudah ditebas hingga mati.” “Ibu tidak tahu kalau bapak keluar, keadaan kambing kita bagaimana pak?”. “Alhamdulillah, induk kambing selamat. Kita datang di waktu yang tepat.”

Arkan menarik napas dan terdiam sebentar. “Maafkan bapak telah membuat ibu susah.” “Ibu baik-baik saja pak. Bukankah semalam kita sudah membahas ini. Ibu ingin kita tetap semangat, melanjutkan apa yang sudah kita mulai.” “Bapak menyesal mementingkan diri bapak sendiri, demi keinginan bapak memiliki ternak kambing sampai lupa dengan kepentingan kalian.” “Itu impian bapak sejak lama, jika sekarang masih belum berhasil, biarkan impian itu tetap melambung tinggi. Tidak ada kepentingan ibu dan Ifa yang bapak lupakan dan tidak salah dengan kepentingan bapak. Kepentingan yang mana?”, “Kepentingan untuk memberikan sarana yang baik untuk pendidikan Ifa?”, “Contohnya?”, “Ifa sebentar lagi mau masuk sekolah, Bu. Kalau ibu dan Ifa masih di sini, akan sulit mendapatkan pendidikan yang terbaik untuk Ifa.”

“Alhamdulillah, kalau bapak memikirkan itu. Karena bapak sudah membuka percakapan ini, ibu juga ingin membicarakan perihal ini. Di sini belum ada pendidikan untuk anak usia dini, apa iya, anak kita akan langsung masuk sekolah dasar melewati pendidikan dini. Menurut bapak, kita harus seperti apa?”.“Kalau mau sekolah PAUD, adanya dibawah. Kita harus mendekat, kalau masih di sini, kasihan untuk proses belajar Ifa.” “Terus bagaimana pak?”, “Mengontrak rumah di bawah.” “Bapak yakin?”. “Apa tidak sebaiknya ibu dan ifa tetap tinggal disini menemani bapak, pikirkan cara lain pak?”

Bapak terdiam dan merenungkan permintaan istrinya. Cukup lama keduanya terhening dengan pikirannya masing-masing. “Bapak akan belikan motor untuk ibu.” ujar Bapak. Ibu memandangi bapak meminta penjelasan lebih lanjut dari suaminya. “Dengan adanya motor, Ibu menjadi mudah mengantar Ifa sekolah dan menjemputnya. Ini cara agar kita tetap tinggal di sini dan tidak mengontrak di bawah.” “Untuk bahan bakar hariannya bagaimana pak, ibu kan tidak bekerja. Beban pengeluaran bapak akan bertambah.” “Tidak apa-apa. Justru bapak semakin bersemangat bekerja untuk kalian. Atau jika ibu ingin mau berjualan, bapak izinkan. Terserah ibu mau berjualan apa, asal ibu mampu dan bisa melakukannya.”

Ibu tersenyum bahagia melihat suaminya sudah lebih baik perasaannya. “Bu, bapak akan keluar menjual kambing. Kebutuhan dapur apa yang kosong, ibu catat. Biar bapak nanti yang belikan. Ibu di rumah saja ya!”

Ibu lekas berjalan mengambil ballpoint dan kertas yang ada di kamar. Diberikannya catatan belanjaan kepada suaminya. Empat hari kemudian, kandang kambing milik Arkan telah kosong. Arkan telah menjual induk kambing mereka. Sudah tidak ada pilihan lain bagi Arkan. Mempertahankan ternak kambingnya hanya menyuburkan para predator yang berkeliaran.

Uang hasil penjualan kambing disimpan oleh Ibu, karena masih kurang untuk membeli kendaraan. Saat ini dirinya akan fokus bekerja saja, seperti sejak awal dia tinggal di lokasi transmigran. Seadanya pekerjaan akan dia lakukan. Itu lebih baik, daripada ia tidak bekerja sama sekali. Hasil dari bekerjanya akan dia sisihkan untuk menambahi anggaran membeli kendaraan untuk istrinya. Setelah kendaraan untuk istrinya tercapai, dia baru akan memikirkan lagi, usaha yang akan dilakukannya.

Kebun seluas lima hektar belum selesai mereka bersihkan, akhirnya sore itu kembali Arkan tidak pulang ke rumah, menginap di bilik kebun yang sudah disediakan oleh pemilik kebun. Sudah tiga hari Arkan  bersama Handoyo dan Sugeng menginap di tempat pemilik kebun. Sangat baik, pemilik kebun sudah melengkapi bilik itu dengan kamar mandi dan toilet walaupun letaknya tidak berada di dalam bilik itu.

“Setelah selesai dari sini, kita istirahat satu hari ya, setelah itu kita lanjut bekerja di kebun sawit,” ungkap Doyo. “Berapa hari kita akan bekerja di kebun sawit?” tanya Sugeng. “Belum tahu juga pastinya, mungkin sekitar empat hari,” jawab Doyo. “Sudah tidur, besok kita bicarakan lagi. Usahakan agar pekerjaan kita di sini sudah selesai dan kita bisa pulang.” Ajak Arkan kepada teman-temannya.

Ketiga kepala rumah tangga itu pun terlelap dalam tidurnya. Mereka tidak ada yang bangun kesiangan. Kedisiplinan menjadi kunci setiap mereka bekerja di manapun. Sejak sehabis subuh, ketiganya sudah turun ke lahan. Pukul tujuh pagi, keringat sudah membahasi baju mereka. Sang pemilik kebun datang dengan membawa sarapan untuk para pekerjanya. Mereka istirahat secukupnya untuk makan pagi, begitu selesai makan, mereka langsung kembali ke lahan. Pukul lima sore, pekerjaan mereka baru selesai. Belum lagi mereka memerlukan waktu untuk membersihkan diri dan menata pakaian mereka. Ditambah, mereka juga menunggu pembayaran atas pekerjaan mereka. Sudah tidak memungkinkan bagi mereka untuk pulang sore itu.

          Mereka berjalan pelan-pelan menuju rumah sang pemilik. Mereka hendak menyampaikan hasil pekerjaan sekaligus berpamitan dan mengambil pembayaran mereka. Sang pemilik sudah menunggu ketiganya. Lumayan lama mereka di rumah sang pemilik, baru sadar jika sudah tiga jam lebih mereka mengobrol, ketiganya pamitan kembali ke bilik kebun dan pamitan besok akan langsung kembali ke rumah masing-masing.

Arkan bangun paling pagi dan paling dulu pulang. Sementara kedua sahabatnya baru terbangun dari tidurnya. Arkan tiba di rumahnya. Ifa sedang bermain di luar sendirian, istrinya tampak kelelahan dan tertidur di lantai beralas tikar di ruang depan. Arkan mendekati istrinya, dibelainya kepala sang istri dengan penuh kasih sayang, lalu dicium kening istrinya.

Istrinya pun terbangun mengetahui Arkan sudah di rumah. Arkan memeluk istrinya erat. Perempuan di pelukannya itu yang selalu menguatkan dirinya. “Alhamdulillah, bapak sudah kembali. Ibu buatkan teh sebentar untuk bapak. Bapak istirahat disini, tunggu ibu kembali.” Sang istri pun berjalan ke dapur membuatkan teh panas untuk Arkan. Istrinya kembali dengan membawa satu gelas teh panas dengan singkong rebus yang ada di piring. “Bagaimana pak, pekerjaannya?”, “Alhamdulillah selesai. Alhamdulillah bayaran bapak juga langsung diberikan.”

Bapak mengeluarkan uang dari saku di celananya dan memberikan dua lembar uang seratus ribu kepada istrinya untuk digunakan keperluan sehari-hari. Sisanya akan Arkan tabung dan ia gunakan untuk keperluannya. “Terima kasih pak. Ibu terima pemberian bapak, mudah-mudah berkah untuk kita semua.” “Amin. Lahan bagaimana bu kondisinya?” “Terurus dengan baik. Kan Ibu setiap hari bersama Ifa ke lahan untuk membersihkan dan merawat lahan itu.”

“Maaf ya bu, bapak belum bisa bantu Ibu. Kalau tidak ada pekerjaan, Bapak pasti akan ke lahan, gantian sama Ibu.” “Lagipula Ibu mau apa kalau tidak ke lahan. Kan tidak mungkin cuma ongkang-ongkang saja di rumah. Kalau Ifa sudah sekolah, nanti lahan bagaimana ya pak?”. “Lahan kan sudah mulai bisa ditinggal. Sudah mulai terbentuk, tidak seperti diawal kita di sini. Ibu bisa membersihkan lahan setiap hari minggu ketika Ifa libur. Kan ada bapak juga, bapak kalau tidak ada pekerjaan kan bisa ke lahan juga. Sekolah Ifa jauh lebih utama.”

Arkan dan istrinya mengelola lahan yang diberikan oleh pemerintah untuk para transmigran. Dulu di awal memperoleh lahan, kondisi lahan masih tidak karuan. Hanya berisi semak belukar, belum ada pohon yang ditanam di situ. Mereka bersama-sama membuka lahan itu dengan peluh keringat. Mereka menggunakan lahan itu untuk menanam nilam, satu tahun kemudian mereka ganti dengan pohon jengkol dan bertahan sampai sekarang masuk tahun ketiga.

Pohon jengkol menjadi satu-satunya investasi yang Arkan dan istrinya lakukan setelah sebelumnya gagal dalam usaha pohon nilam dan gagal dalam usaha ternak kambing. Mereka putuskan sudah hanya fokus merawat pohon jengkol saja, sampai nanti pohon jengkol itu besar.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Bapak turun ke kota ataupun desa lain untuk bekerja. Sementara bapak keluar bekerja, Ibu tinggal di lokasi transmigran, Ibu tidak kemana-kemana. Ifa masih dua tahun saat itu, masih memerlukan perhatian dan begitu juga lahan mereka. Ibu yang memilih bertahan di lokasi transmigran, memilih tanggungjawab menjaga lahan dan mendidik Ifa. Sekarang Ifa sudah berumur lima tahun, saatnya sekolah. Tak terasa mereka sudah tiga tahun melalui hari-hari yang sulit di lokasi transmigran.

Tabungan bapak selama dua tahun ditambah tabungan yang ada di ibu hasil penjualan kambing dua dulu juga masih ada, terjaga baik oleh istrinya, sudah cukup untuk membelikan motor Ibu.

“Ayo nak, bangun. Siap-siap berangkat ke sekolah.” Ifa membalikkan badannya lalu menggeliat dan mengucek matanya. Melihat ibu sudah disampingnya, Ifa tersenyum kepada Ibunya. “Ifa sarapan dulu ya bu, setelah itu baru mandi dan salat.” “Iya Nak. Bangun dulu, duduk di ruang depan. Ibu ambilkan sarapan.” Tak berapa lama, Ibu sudah kembali dengan membawa sepiring nasi dengan tempe goreng pakai sambal kecap. Sebelum Ifa bangun, Ibu sudah menanak nasi untuk makan sehari itu. Ibu menunggui Ifa hingga selesai makan.

Keduanya bersiap-siap, pukul tujuh mereka berangkat. Ibu membawa sepeda motornya menyusuri jalan bergelombang dan berbatu menuju ke sekolah Ifa. Sekitar empat puluh menit meraka berkendara, Ifa tiba di sekolahnya. Walau menempuh jalan yang tidak mudah, setiap harinya Ifa tidak pernah terlambat sampai ke sekolah.

Setelah Ifa bersama guru dan temannya, Ibu menggunakan waktu untuk berjualan keliling menjajakan sayur dan lauk di perkampungan sekitar sekolah. Dengan kegigihannya, sudah banyak pelanggan dan warga yang tahu dan membeli jualan Ibu. Bahkan para orangtua yang menjemput teman Ifa juga menjadi pelanggan setia Ibu.

Dagangan ibu cepat habis, kalau pun sisa sedikit, ibu gunakan untuk lauk makan mereka sekeluarga. Setelah selesai menjemput Ifa, Ibu pergi ke pasar berbelanja untuk dagangan esok hari. Pernah juga dagangan ibu, masih banyak, Ibu tidak keliling lagi. Cukup ibu jual di pasar sambil ibu berbelanja

Selesai dari pasar, mereka pulang ke atas. Tiba di rumah, Ibu beristirahat sebentar melepas lelah, selanjutnya menyuci baju. Ifa tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bisa diandalkan. Pelan-pelan Ifa mulai bisa membantu Ibu menyiapkan bumbu dapur.

Pagi itu bapak hendak pulang ke rumah dari tempatnya bekerja. Sebelum pulang, Arkan akan menemui Ifa di sekolahnya. Arkan melesat menuju sekolah Ifa. Ia akan menunggu anak dan istrinya di sekolah. Berharap pagi itu, dia akan bertemu dengan mereka. Pukul delapan, anak-anak masuk kelas. Namun Ifa dan ibu belum tampak. Arkan menduga, mungkin keduanya sedikit terlambat. Arkan menunggu lagi. Hingga pukul sembilan lebih, istri dan anaknya belum sampai, bapak mulai khawatir.

Arkan mencoba menelpon istrinya, namun belum terhubung. Perasaan Arkan tidak tenang, Arkan pun melesat pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Arkan mendapati Ifa sedang tidur di kamar. Sedangkan istrinya masih di belakang. Bapak lega, ternyata anak dan istrinya ada di rumah. Arkan menyentuh kening Ifa, ternyata Ifa demam.

Mengetahui suminya sudah pulang, Ibu berjalan masuk ke kamar dan menjelas kalau Ifa hari ini tidak berangkat sekolah. Lalu mencium tangan suaminya. “Bagaimana kondisi Ifa, Bu?”, “Ifa demam, pak.”, “Kenapa Ibu tidak memberitahu bapak?”, “Batre hp Ibu habis pak. Bapak kan tahu, disini belum ada listrik, Ibu belum sempat keluar untuk mengisi batre. Ifa tidak bisa ditinggal,” terang Ibu.

Ibu tidak melihat raut marah di wajah bapak, berarti bapak bisa mengerti dan memahami kondisinya. “Mulai kapan Ifa sakit, Bu?” tanya Bapak sambil membelai dan memijit tubuh Ifa yang terbaring lemah di kasur. “Kemarin lusa, pagi sebelum berangkat sekolah, Ifa tidak mau sarapan. Bilangnya tidak ada nafsu makan. Sepulang sekolah, Ifa lemas dan kurang ceria. Badannya sedikit hangat. Ibu langsung bawa Ifa pulang, Ibu tidak ke pasar karena melihat Ifa sakit, Ibu putuskan tidak berjualan dulu. Sampai di rumah, Ifa langsung masuk kamar dan tidur. Sore jam empatan itu, dia mulai mencret dan ke belakang beberapa kali kemarin malam.”

Melihat suaminya sedang menemani Ifa, Ibu berjalan ke belakang dan menyiapkan teh panas. Bapak menerima teh dari istrinya dan meminumnya. “Kenapa ibu tidak meminjam hp ke istrinya Pak Sur?” tanya Bapak sambil menyesap teh panas. “Maafkan Ibu, pak. Ibu tidak tega meninggalkan Ifa sendiri. Kondisinya yang lemah, tidak memungkinkan ibu keluar walau sebentar. Kemarin Ifa seharian diare pak. Bolak-balik kamar mandi. Ifa selalu memanggil ibu setiap hendak ke belakang. Ibu berencana siang ini kalau Ifa belum juga membaik, Ibu akan menghubungi bapak. Alhamdulillah pagi ini, Bapak sudah sampai rumah.”

Agar tidak menganggu Ifa, keduanya keluar kamar dan duduk di ruang depan. “Ibu sudah memberi Ifa obat?” tanya bapak. “Ibu sudah memberi obat Ifa. Itu pun obat demam milik bapak. Ibu memberi dosis setengahnya. Tentunya, Ibu juga belum membawa Ifa periksa ke bidan atau dokter karena kondisi jalan yang tidak baik, tidak mungkin ibu sendirian membawa Ifa. Hanya teh hangat tawar dan teh manis bergantian untuk membuat kondisi Ifa sedikit lebih baik.” jawab Ibu.

Arkan berjalan keluar menemui Rindang, sahabat terbaiknya. Yang dicari tidak ada di rumah sedang keluar bekerja. Arkan menitipkan pesan melalui istrinya, setelah pulang ke rumah, Arkan minta Rindang menemaninya memeriksakan kondisi Ifa ke dokter.

Rindang yang ditunggu sejak pagi hingga sore, tidak juga datang menemui Arkan. Hari sudah mulai gelap, Arkan gelisah dengan kondisi Ifa yang belum juga membaik. Bagi Arkan hanya Rindang yang paling bisa diandalkan. Baru selepas Isya, Rindang ke rumah Arkan. “Maaf Ar, tadi aku pulang kesorean karena banyak yang harus dikerjakan. Ayo segera kita bawa anakmu ke dokter.” Arkan gembira akan kedatangan sahabatnya itu. Mereka berboncengan bertiga. Rindang di depan mengendarai motor, sedangkan Arkan di belakang sambil menjaga Ifa yang lemah. Arkan meminta istrinya di rumah saja, karena sudah malam.

Arkan meminta Rindang membawa mereka rumah sakit umum daerah. Ada dokter jaga di unit gawat darurat. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Ifa beberapa kali merintih. Lompatan-lompatan kecil motor akibat jalan yang bergelombang, membuat kepala Ifa bertambah pusing.

Perawat jaga menerima mereka dengan baik dan ramah. Setelah melakukan pendaftaran, Ifa langsung diperiksa. Malam itu, unit gawat darurat sepi. Dokter jaganya seorang laki-laki dan masih mudah.

Dokter jaga menjelaskan kepada bapak, “Ifa mengalami gejala tipus. Dia harus dirawat intensif.” “Maksudnya dirawat intensif apa dok?” tanya Arkan. “Ifa perlu beberapa hari dirawat inap di rumah sakit,” terang dokter jaga. “Kalau dirawat dirumah saja bagaimana dok?”, “Kalau dirumah tidak ada dokter yang mengontrol perkembangan Ifa setiap harinya.”, “Dokter beri saya resep obat untuk dibawa pulang. Saya sebagai orangtuanya akan mengontrol anak saya setiap hari.”. “Bapak tidak perlu kuatir jika Ifa dirawat di sini. Bapak bisa menggunakan kartu jaminan kesehatan yang bapak punya untuk meringankan biaya rumah sakit?”

Bapak terdiam sejenak, lalu melanjutkan perkataannya, “Saya tahu akan hal itu dok, namun saya juga menyadari kalau saya sudah menunggak hampir satu tahun ini belum membayar iuran jaminan kesehatan.”. Dokter itu memahami mengapa Arkan keberatan anaknya dirawat di rumah sakit. Namun jiwa dan kesehatan Ifa perlu diutamakan. “Malam ini ijinkan Ifa dirawat di sini. Sayangi anak bapak. Saya hanya ingin anak bapak kembali sehat dengan cepat.”

Bapak pun mengangguk pelan, tanda persetujuan. Sekitar setengah jam menunggu kamar, akhirnya Ifa dipindahkan ke ruang rawat inap khusus anak-anak. Selama Ifa dipegang oleh perawat, Arkan meminta Rindang pulang dan menyampaikan kabar ini kepada istrinya.

Sepulang Rindang, Arkan duduk sendirian menghitung uang yang ada di saku celananya. Uang hasil bekerjanya ternyata belum cukup untuk menutup tunggakan iuran jaminan kesehatan mereka. Satu tahun pertamanya di transmigran, Arkan sedang melakukan proses penyesuaian aktivitas ekonominya, sehingga keuangannya sedikit mengalami gangguan sehingga menunggak. Setelah tahun kedua Arkan mulai rajin membayar iuran jaminan kesehatannya hingga sekarang. Namun ia belum menutup semua kekurangan pembayarannya itu hingga sekarang. Perasaannya belum lega, ia perlu kehadiran istrinya. Rindang masuk ke kamar Ifa. Anak itu belum tidur kembali. Arkan menemani Ifa hingga anaknya tertidur.

Tidak ada tikar, malam itu, agar tidak masuk asing, Arkan pun tidur disamping Ifa. Pagi-pagi istrinya sudah datang membawa baju ganti, peralatan mandi dan makan pagi untuk mereka. Entah jam berapa istrinya bangun, untuk memasak dulu. “Ibu ke sini sama siapa?”tanya Bapak. “Sendiri, Pak. Semalam setelah Rindang memberi kabar, sebenarnya Ibu ingin langsung menyusul. Namun Rindang melarang ibu demi keselamatan Ibu. Rindang menyarankan agar pagi saja, Ibu menyusul Ifa di rumah sakit. Rindang juga tidak bisa mengantar ibu karena kelelahan seharian belum beristirahat”

Ibu menyiapkan makan pagi untuk mereka berdua. Bapak mengajak ibu berbicara tentang kekurangannya uang pembayaran tunggakan iuran jaminan kesehatan mereka. “Masih kurang berapa pak?” tanya Ibu. “Enam ratus ribu lagi, Bu.” jawab Bapak. “Inshallah Ibu ada pak. Kan ibu selama ini berjualan, Alhamdulillah Ibu bisa menyisihkan uang hasil jualan ibu untuk ditabung.”

Bapak sangat lega, istrinya ada tabungan. Bapak tambah lahap sarapan pagi itu. Setelah makan pagi, Bapak keluar untuk memberesi tunggakan mereka. Ibu berjaga menunggu Ifa.

 Lokasi transmigran juga sudah terang, pemerintah telah membangun sumber listrik dan  infrastruktur jalan. Transportasi dan mobilisasi untuk aktivitas ekonomi dan pendidikan lebih mudah dan menghemat waktu perjalanan. Kehidupan warga transmigran menjadi lebih dinamis. Bersama istrinya, Arkan bahu membahu terus menata kehidupan mereka. Tak terasa mereka telah melewati tujuh tahun kehidupan di transmigransi. Setiap hari minggu, Ibu libur jualan. Permintaan pekerjaan untuk Arkan juga selalu berdatangan. Lahan jengkol ditengok, dirawat bergantian. Ifa belajar tanpa hambatan. Kehidupan mereka pun mulai membaik, begitu pula kehidupan warga transmigran yang lain. Ganjaran kebaikan untuk mereka yang kuat, tahan, tabah dan tidak putus ada. Derana.

“Kepada Sang Merah Putih, Hormat gerak!”. Para peserta upacara meletakkan tangannya di samping kepala memberi hormat kepada bendera negara yang sedang dikibarkan. Suara paduan suara yang dinyanyikan oleh emak-emak mengiringi pengibaran bendera. Paduan suara selesai bertanda bendera telah selesai pula dikibarkan. “Tegak grak!” teriak komandan upacara.

Petugas pengibar bendera berbaris dan berjalan kembali menuju tempat semula. Setelah tiba di tempat, komandan upacara berteriak, “Istirahat di tempat gerak”. Perintah komandan upacara itu dikuti oleh semua peserta upacara.

Tampak di tengah lapangan berdiri seorang laki-laki mengenakan sepatu bot, kaos lengan panjang dan bertopi hendak memberikan orasi. Tidak ada pengeras suara di tempat itu. Pemimpin upacara tersebut mengarahkan pandangannya ke seluruh peserta yang hadir. Dengan penuh kewibawaan, laki-laki itu berkata sambil sedikit berteriak agar semua peserta mendengar perkataannya. “Assalamu’alaikum wr.wb,” salam pembuka dari pemimpin upacara. “Waalaikumsalam wr.wb,” jawab seluruh peserta upacara.

“Bapak dan Ibu semuanya, jauh dari keramaian, bersama-sama kita memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-77. Disaat yang sama, kita juga memperingati sewindu kebersamaan kita di lokasi transmigran ini. Bersama-sama kita refleksikan perjalanan kita.

Teruslah melangkah mengikuti keyakinanmu

Jangan pernah menyerah

Berhentilah sejenak jika lelah

Namun jangan menyerah apalagi berbalik arah

Hidup memerlukan ketangguhan, begitu pula kamu

Jika suatu saat kamu gagal

Ingatlah, kegagalan bukan berarti Tuhan sedang menghukummu

Namun Tuhan sedang mengarahkan langkahmu

Jangan lah kamu sedih

Dan Ketika kamu sedih akan ada Tuhan yang menghibur dan menghapus air mata

Dan semua akan baik-baik saja

Kendalikan emosi atau kamu yang akan dikendalikan oleh emosi

Jangan mengeluh akan kegagalanmu

Janganlah kamu berhenti mengejar asamu

Karena memang itulah tanggungjawabmu

Kamulah yang bertanggungjawab atas dirimu sendiri

Berdoalah dan berusahalah

Serta belajarlah karena belajar akan mengantarkan kesuksesan

Yang akan membuat besar namamu

Adalah doa dan kerja kerasmu

Bukan kesombongan dan kemalasanmu

Cintai dirimu, Cintai keluargamu dan Cintai Pekerjaanmu

(Merry Riana)

 

Seusai berefleksi, semua peserta berpelukan satu sama lain. Isi refleksi tadi telah menggambarkan apa yang mereka rasakan selama bertahun-tahun. Melihat situasi peserta yang mulai kehilangannya barisannya, komandan upacara pun segera membalikkan badan dan membubarkan peserta upacara. Pemimpin upacara yang tak lain adalah Arkan, warga transmigran menyebutnya sebagai kepala suku, ikut membaur dengan peserta upacara lainnya yang tak lain adalah istri, anak dan seluruh warga transmigran

Para ibu-ibu yang sudah membawa makanan dan minuman dari rumah, segera membentangkan alas untuk bersama-sama makan. Ibu, bapak dan anak-anak duduk bersama di lesehan. Piring, gelas dan sendok disiapkan di atas alas, lengkap beserta nasi dan lauk. Terpancar cahaya kebahagiaan, kekeluargaan dalam suasana nasionalisme.

 

 

 

 

Penulis: Tuti Isnaeni

Posting Komentar

0 Komentar